ON AIR
Indeks
Ekonomi

Ketegangan di Selat Hormuz Dongkrak Harga Minyak Mentah Nyaris USD100

Harga minyak mentah dunia kembali bergerak tajam ke zona sensitif setelah eskalasi militer di jalur energi kritis Timur Tengah. Pasar mencatat harga minyak mentah mendekati USD100 per barel menyusul aksi militer Amerika Serikat terhadap kapal tanker Iran serta naiknya ketegangan di Selat Hormuz yang berpotensi mengganggu arus pasokan global. Bagi pembaca di Pangkalpinang dan wilayah Babel, pergerakan ini penting dipantau karena berpengaruh pada sentimen energi dan biaya logistik nasional.

Tekanan di pasar tidak hanya datang dari satu faktor. Selain risiko geopolitik, permintaan minyak mentah China yang meningkat serta gangguan infrastruktur energi terkait perang di Ukraina turut memperkuat dorongan harga ke atas. Kombinasi tersebut membuat pelaku pasar lebih waspada terhadap lonjakan mendadak.

Peringatan Bank of America soal risiko harga

Bank of America dalam catatan riset yang dikutip media internasional pada Rabu, 9 September 2026, menegaskan bahwa pasar masih menghadapi risiko signifikan. Lembaga itu mengingatkan, apabila konflik di Timur Tengah meluas dan infrastruktur energi mengalami kerusakan besar, harga minyak Brent berpotensi terdorong hingga USD150 per barel.

Level mendekati USD100 per barel sendiri merupakan zona yang belum terlihat sejak Juli. Momentum tersebut muncul setelah pasukan AS melakukan serangan terhadap tanker Iran di kawasan Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi urat nadi ekspor minyak dunia.

Serangan terhadap lima tanker dan respons Iran

Menurut laporan yang beredar, pasukan AS menyerang lima kapal tanker Iran pada Selasa. Langkah itu disebut sebagai respons atas percobaan serangan rudal terhadap kapal perang AS. Kelima kapal dikaitkan dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Sebelum serangan dilaksanakan, awak kapal telah diperintahkan meninggalkan kapal.

Di sisi lain, Iran menegaskan akan menghentikan kapal yang melintas di kawasan tersebut tanpa izin. Sikap ini menambah ketidakpastian operasional bagi pelayaran komersial yang sehari-hari bergantung pada kelancaran Selat Hormuz.

Lalu lintas pelayaran merosot, pasokan global terancam

Data pelacakan menunjukkan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz selama akhir pekan turun ke level terendah sejak Mei. Penurunan volume lalu lintas memperkuat kekhawatiran pasar bahwa gangguan pasokan bukan sekadar spekulasi, melainkan risiko operasional yang mulai tercermin di lapangan.

Selat Hormuz selama ini menjadi jalur strategis bagi ekspor minyak dari produsen utama di kawasan. Setiap ancaman terhadap kelancaran lalu lintas di sana biasanya langsung terserap ke harga acuan dunia, termasuk Brent dan WTI, karena pasar menghitung premi risiko geopolitik.

  • Harga minyak mentah mendekati USD100 per barel
  • Brent berpotensi ke USD150 jika konflik meluas menurut Bank of America
  • Lima tanker Iran diserang AS sebagai respons insiden rudal
  • Lalu lintas Hormuz akhir pekan terendah sejak Mei

Implikasi bagi pasar energi dan pembaca di Babel

Meski harga acuan ditetapkan di pasar global, gejolak seperti ini sering berimbas pada ekspektasi biaya energi di dalam negeri, termasuk rantai pasok BBM dan biaya angkutan. Masyarakat serta pelaku usaha di Pangkalpinang perlu mengikuti perkembangan resmi pemerintah dan data harga domestik, tanpa menyamakan secara otomatis setiap pergerakan harga internasional dengan harga eceran lokal.

Analis umumnya menyarankan pemantauan berkelanjutan terhadap pernyataan resmi AS dan Iran, volume tanker di Hormuz, serta indikator permintaan China. Ketiga variabel itu saat ini menjadi penentu utama arah harga jangka pendek.

Dengan risiko yang masih terbuka, volatilitas harga minyak mentah diperkirakan belum reda dalam waktu dekat. Stabilitas pasokan global akan sangat bergantung pada de-eskalasi di jalur Hormuz dan terhindarnya kerusakan infrastruktur energi skala besar.

Sumber: Sindo News.

Tag: harga minyak, Selat Hormuz, tanker Iran, minyak mentah, ketegangan AS Iran, Brent, pasar energi, Pangkalpinang